Kamis, 25 April 2013

contoh naskah drama proklamasi untuk 10 orang


Pada tanggal 14 agustus 1945, para kaum muda mengadakan rapat di Jakarta. Dalam rapat ini, Sutan Syahrir mengumumkan bahwa dia mendapat informasi tentang menyerahnya Jepang pada sekutu.
Sutan Syahrir
: “Assalamu’alaikum Wr.Wb.”
Kaum Muda
: “Waalaikumsalam Wr.Wb”
Sutan Syahrir
: “Saudara-saudara, saya dapat berita yang menggembirakan bagi kita semua, bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, saya mendengar berita tersebut dari radio luar negeri, maka telah terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia.”
Sukarni
: “Sungguh kabar gembira yang anda kabarkan tadi, tapi apa itu kekosongan kekuasaan?”
Sutan Syahrir
: “Biar saya perjelas, jadi sekarang jepang sudah tidak berkuasa lagi di negeri kita, karena telah menyerah pada sekutu sedangkan sekutu belum menguasai Indonesia”
Sukarni
: “Baik, saya mengerti”
Chairul Shaleh
: “Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kekosongan kekuasaan ini?”
Suhud
: “Bagaimana jika kita meminta pada Bung Karno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya?
Latif
: “Ya..ya.. saya setuju dengan itu karena ini memang waktu yang tepat untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia”
Chairul Shaleh
: “Hmm.. baiklah kalau kalian semua setuju, mari kita pergi ke rumah Bung Karno untuk membicarakan hal ini.”
       
Rapat pun diakhiri, dan mereka pergi ke rumah Soekarno dengan maksud memberitahu Soekarno akan keinginan para kaum muda ini.
Sutan Syahrir
: “Assalamu’alaikum..”
Fatmawati
: “Waalaikumsalam..”
Suhud
: “Permisi bu, apa Bung Karno ada didalam? Kami ingin bertemu dengannya”
Fatmawati
: “Oh ada, bapak ada di dalam, memang ada keperluan apa ya?”
Chairul Shaleh
: “Begini bu, ada hal yang ingin kami bicarakan.”
Fatmawati
: “Kalau begitu, silahkan masuk..”
Kaum muda
: (masuk)
Fatmawati
: “Silahkan duduk..”
Kaum Muda
: “terimakasih bu..”                    
Fatmawati
: “Sama sama, kalau begitu, saya panggilkan bapak dulu ya”
Soekarno & Fatmawati
: (datang)
Kaum Muda
: (Berdiri, berjabat tangan dengan Soekarno, dan duduk kembali)
Fatmawati
: “Oh iya, kalian mau minum apa? Biar saya buatkan”
Latif
: “Tidak usah merepotkan, bu, tidak usah”
Fatmawati
: “Ah tidak usah seperti itu, jangan sungkan”
Latif
: “Kalau begitu, apa saja yang penting halal..”
Fatmawati
: “Baiklah..” (pergi mengambil minuman) (kembali membawa minuman) “Permisi, saya harus kembali ke dapur, masih banyak pekerjaan.”
Soekarno
: “Saya dengar dari istri saya, ada yang ingin dibicarakan? Perihal apa itu?”
Chairul Shaleh
: “Begini, kami mendapat kabar bahwa Jepang telah menyerah pada sekutu jadi otomatis terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia.”
Soekarno
: “Benarkah?”
Sukarni
: “Ya, itu benar. Dan maksud kami datang ke sini adalah untuk meminta agar segera dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia”
Soekarno
: “Secepatnya? Mungkin akan saya usahakan setelah dirundingkan dengan anggota PPKI lainnya”
Suhud
: “Tidak bisa. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena ini merupakan waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”
Soekarno
: "Apa kalian tidak memikirkan bahaya yang akan kita dapat bila kita senekat itu untuk memproklamasikan Indoneisa? Jepang pasti akan menyerang kita”
Sutan Syahrir
: “Justru itu, saat ini Jepang bukan penguasa Indonesia lagi, jadi untuk apa kita menyia-nyiakan kesempatan ini?”
Chairul Shaleh
: “Yang jelas, kami menginginkan kemerdekaan Indonesia secepatnya!”
Soekarno
: “Apa ini tidak terlalu tergesa-gesa? Sedangkan kebenaran berita itupun masih diragukan!”
Sutan Syahrir
: “Tapi saya yakin berita itu benar adanya”
Soekarno
: “Nanti saja setelah kita bicarakan dengan anggota PPKI !”
Sutan Syahrir
: “Saya tidak berharap anda melaksanakan rapat PPKI terlebih dahulu karena saya takut Jepang tahu tentang rencana kita dan menghalangi Indonesia merdeka”
Soekarno
: “Tapi PPKI merupakan satu satunya cara untuk memerdekakan Indonesia”
Latif
: “Tapi kami tidak ingin merdeka oleh Jepang!”
Moh.Hatta & Ahmad Soebardjo
: “Assalamu’alaikum..”
Semua
: “Waalaikumsalam..”
Moh.Hatta
: “Wah, ada apa ini?”
Soekarno
: “Ah, tidak ada apa-apa, kami hanya sedang membicarakan tentang keinginan mereka. Oh ya, silahkan duduk”
Moh.Hatta & Ahmad Soebardjo
: (duduk)
Ahmad Soebardjo
: “Keinginan apa maksudnya?”
Suhud
: “Kami ingin proklamasi Indonesia cepat dilaksanakan, tetapi kami tidak ingin merdeka oleh Jepang”
Moh.Hatta
: “Apa tidak sebaiknya kita rundingkan dulu secara matang-matang?”
Sukarni
: “Tidak ada waktu lagi, ini saat yang tepat untuk memerdekakan Indonesia. Sebelum bangsa lain datang kembali menguasai Negara kita dan menghalangi kita untuk merdeka lagi.
Moh. Hatta
: “Yasudah, kami akan membicarakan hal ini. Besok kalian silahkan datang kembali.”
Sutan Syahrir
: “Hmm.. Baiklah kalu begitu”
Chairul Shaleh
: “Kami permisi dulu, maaf telah mengganggu”
Kaum muda
: “Assalamu’alaikum..” (berjabat tangan dengan Soekarno & Hatta)
Moh. Hatta
: “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Soekarno
: “Mereka bilang, Jepang telah mengalah pada sekutu dan mereka ingin kita segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”
Ahmad Soebardjo
: “Apa? Bukankah seharusnya kita adakan dulu sidang PPKI sebelum melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia?”
Soekarno
: “Ya, saya juga berfikiran seperti itu tapi mereka tetap memaksa untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”
Moh. Hatta
: “Lantas apa yang akan kita lakukan sedangkan para kaum muda terus mendesak kita?”
Soekarno
: “Kebenaran berita tersebut pun masih diragukan, bagaimana jika itu berita palsu?”
Moh. Hatta
: “Jadi kita akan turuti kemauan mereka atau tidak?”
Soekarno
: “Tidak”
Ahmad Soebardjo
: “Baiklah kalu begitu”

        Pada malam harinya, pukul 24.00 menjelang tanggal 16 Agustus 1945, para kaum muda kembali mengadakan rapat di Cikini dan merencanakan untuk mengasingkan Soekarno bersama Moh. Hatta.      
Chairul Shaleh
: “Sekarang apa yang harus kita lakukan? Sementara para kaum tua enggan mengikuti keinginan kita?”
Sutan syahrir
: “Bagaimana kalau kita asingkan Bung Karno dengan Moh. Hatta ke luar Jakarta agar bebas dari pengaruh Jepang?
Sukarni
: “Tapi kemana ya?”
Latif
: “Bagaimana jika ke Renggas dengklok, disana keamanannya terjamin.”
Suhud
: “Iya, bagus. Saya setuju dengan itu”
       
Para kaum muda lalu pergi ke rumah Soekarno untuk mengajaknya dan Moh.Hatta ke Renggas Dengklok.
Latif
: “Assalamu’alaikum..”
Fatmawati
: “Waalaikumsalam.. mencari kang mas ya?”
Latif
: “Maaf bu, kami tidak bermaksud mengganggu waktu istirahat ibu, tapi ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan Bung Karno”
Fatmawati
: “Ah tidak apa apa.. Ayo silahkan masuk, silahkan duduk. Kebetulan Bung Hatta juga menginap disini, apakah kalian juga ada perlu dengannya?”
Suhud
: “Oh, iya bu, kebetulan sekali.”
Soekarno & Hatta
: (datang)
Hatta
: “Ada apa ya? Mengapa tengah malam begini kalian susah susah datang kemari?”
Sutan Syahir
: “Ada hal penting yang ingin kami bicarakan”
Soekarno
: “Apa itu?”
Sukarni
: “Sebelumnya kami mohon maaf lagi lagi kami mengganggu istirahat anda, kami diutus untuk membawa anda berdua ke luar kota”
Hatta
: “Memangnya kemana?”
Latif
: “Kerawang”
Hatta
: “Kalau kami tidak mau?”
Chairil shaleh
: “Maaf tuan, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat, ini sangat penting”
Soekarno
: “Untuk apa kami pergi ke sana?”
Sutan syahir
: “Untuk menghindari pengaruh Jepang.”
Hatta
: “Apa ini benar-benar sangat penting?”
Latif
: “Ini benar benar penting”
Hatta
: “Baiklah”
Soekarno
: “Sebentar, saya akan berpamitan dulu. Bu.. Bu..”
Fatmawati
: “Iya..”
Soekarno
: “Bu, bapak pamit dulu, bapak akan pergi ke luar kota.”
Fatmawati
: “Luar kota?”
Soekarno
: “Ya, mereka bilang ke karawang”
Fatmawati
: “Bolehkah saya ikut? Akhir-akhir ini saya merasa akan terjadi sesuatu yang tidak enak tentang kang mas
Soekarno
: “Baiklah”
Chairul Shaleh
: “Maaf, apakah sudah selesai? Kita harus cepat pergi”
Soekarno
: “Ayo, mari”
        Mereka pun pergi ke Renggas Dengklok, mereka tiba di sebuah rumah. Disana Bung Karno dan Moh.Hatta terus didesak  dengan cara kasar. Mereka didesak oleh kaum muda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Latif
: “Bung karno, tunggu apa lagi? Ini waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”
Soekarno
: “Maaf, saya tidak bisa”
Chairul Shaleh
: “Tidak bisa bagaimana? Mau menunggu sampai kapan kita untuk merdeka?”
Moh. Hatta
: “Jika Jepang mengetahui rencana ini, kita pasti akan diserang”
Sukarni
: “Maka dari itu, kita harus segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”
Soekarno
: “Tidak. Kami tidak bisa”
Chairul Shaleh
: “Ayolah! Kami hanya ingin Indonesia  cepat merdeka!”
Fatmawati
: “Hey, kalian ini apa apaan? Tidak kah ada cara yang lebih halus?”
Suhud
: “Dengar, bu, kami hanya ingin Indonesia cepat merdeka.”
Fatmawati
: “Ya, saya tahu itu, tapi jalannya tidak seperti ini ! Bisa kan kalian rundingkan kembali secara baik baik dengan kepala dingin? Percayalah, jika emosi yang kalian andalkan, tidak akan berhasil”

        Akhirnya Fatmawati berhasil membujuk para kaum muda untuk menyelesaikannya secara baik baik. Disisi lain, Ahmad Soebardjo yang telah mengetahui keadaan dan keberadaan Soekarno, Moh. Hatta dan Fatmawati, pergi untuk menyelamatkan mereka bersama Sayuti Melik.
Ahmad Soebardjo & Sayuti Melik
: (Datang)
Ahmad Soebardjo
: “Hey, kalian! Sudahlah, lepaskan mereka, rasanya sangat tidak pantas menahan tokoh nasionalis seperti ini”
Sayuti melik
: “Bagaimana bila kita rundingkan secara baik-baik?”
Latif
: “Baiklah..”
Chairul Shaleh
: “Jadi bagaimana, Bung?”
Soekarno
: “Baiklah.. Saya akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”
Sutan Syahrir
: “Ya baguslah, tapi dimana kita akan membuat teks proklamasinya?”
Ahmad Soebardjo
: “Bagaimana jika kita ke rumah laksamana Maeda, di Jakarta? Dia teman saya, orang jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia”
Sayuti Melik
: “Ya saya dengar juga dia perwira tinggi militer, jadi keamanannya bisa terjamin. Tempatnya strategis”
Soekarno
: “Yasudah, kita pergi ke sana”
        Mereka semua lalu kembali ke Jakarta dan pergi ke rumah Laksamana Maeda.
Ahmad Soebardjo
: “Permisi..”
Laksamana Maeda
: “Eh, ada apa ini tuan-tuan datang kemari? Apakah ada masalah?”
Fatmawati
: “Maaf, mungkin kedatangan kami mengganggu waktu istirahat tuan, kami bermaksud untuk menanyakan apakah kabar Jepang menyerah pada sekutu itu benar?”
Laksamana Maeda
: “Darimana kalian mengetahuinya?”
Hatta
: “Teman kami mendapatkan informasi itu dari radio Luar Negeri”
Laksamana Maeda
: “Ya, berita itu memang benar, tapi masih dirahasiakan.”
Hatta
: “Tuan, para kaum muda terus mendesak kami untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, bagaimana menurut tuan?”
Laksamana Maeda
: “Ya bagus, ini memang waktu yang sangat tepat.”
Ahmad Soebardjo
: “Begini, jika diperbolehkan, kami akan meminjam rumah tuan”
Laksamana Maeda
: “Boleh..Boleh.. Memang untuk apa?”
Soekarno
: “Rencananya kami akan membuat naskah proklamasi.”
Laksamana Maeda
: “Oh, ya silahkan. Mari-mari kita buat naskah proklamasi di ruang makan”
Soekarno
: “Rasanya terlalu banyak orang yang akan membuat naskah proklamasi”
Sayuti Melik
: “Ya, sepertinya Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo pun cukup untuk sekedar membuat naskah proklamasi”
Sutan Syahrir
: “Ya, sepertinya kami bisa tunggu disini”

        Ir.Soekarno, Moh.Hatta dan Ahmad Soebardjo pun pergi ke ruang makan untuk menulis naskah proklamasi. Sedangkan yang lainnya menunggu mereka selesai. Akhirnya naskah proklamasi selesai dibuat.
Soekarno
: “Ini dia, naskah proklamasi sudah selesai kami buat. Saya akan membacakannya.” (membacakan naskah proklamasi awal)
Hatta
: “Mungkin ada yang ingin menambahkan?”
Sukarni
: “Sepertinya ada sedikit kata kata yang harusnya diubah”
Soekarno
: “Ya, kami akan memperbaikinya”
Ahmad Soebardjo
: “Apakah Sayuti melik dapat mengetik naskah ini dengan perubahan-perubahannya?”
Sayuti Melik
: “Tentu saya bisa, Bung”
Sayuti melik pun mengetik naskah proklamasi beserta perubahannya, yang dimana teks itu akan ditandatangani oleh Ir.Soekarno juga Moh.Hatta
Soekarno
: “Nah, sekarang naskah prolamasi sudah selesai, tapi dimana proklamasi ini akan dibacakan?”
Suhud
: “Lapang IKADA”
Soekarno
: “Tidak, disitu keamanan kita tidak terjamin”
Fatmawati
: “Maaf, boleh saya mengusulkan? Bagaimana bila di rumah saya?”
Soekarno
: “Ya, itu bagus”
Hatta
: “Ya, saya juga setuju”
Ahmad Soebardjo
: “Iya bisa, disana aman”

        Akhirnya proklamasi pun sepakat untuk dibacakan di rumah Ir.Soekarno. Pada tanggal 17 Agustus 1945 dini hari, semuanya bersiap siap. Disaat semuanya sedang sibuk, suhud tiba-tiba datang menghampiri Bung Karno.
Suhud
: “Permisi tuan, apakah akan ada proses pengibaran bendera merah putih?”
Soekarno
: “Tentu saja harus, itu merupakan lambang Negara kita”
Suhud
: “Tapi benderanya tidak ada”
Soekarno
: “Apa?! Baiklah, akan ku perintahkan Fatmawati untuk menjahitkan bendera sekarang juga. Tolong panggilkan dia”
Suhud
: (pergi memanggil Fatmawati)
Fatmawati
: “Ada apa pak? Mengapa tiba-tiba memanggilku?”
Soekarno
: “ Tolong jahitkan kain merah dan kain putih menjadi satu sekarang juga untuk menjadi bendera.”
Fatmawati
: “Apa?! Sekarang?! Baiklah akan aku usahakan.”

        Fatmawati pun menjahitkan bendera merah putih dan mereka semua mempersiapkan pengibaran bendera pula.
Latif
: “Maaf bung, apakah acara proklamasi ini sudah bisa dimulai ? ini sudah jam 09.45”
Soekarno
: “Oh ya, mari kita ke depan.”
       
Soekarno pun membacakan pidatonya sebentar dan membacakan naskah Proklamasi. Suhud dan Latif pun mengibarkan bendera merah putih yang diiringi lagu Indonesia Raya ciptaan WR.Supratman.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar